Cast : Yesung
Park Eun Ri
Cho Kyuhyun
Kim Hyera
Genre : Angst, Sad
Yesung POV
Park Eun Ri. Aku melihat sosoknya tengah merenung. Memeluk boneka kelinci kumal miliknya mesra. Membayangkan sesuatu yang entah apa. Memandangi awan yang bergelombang indah menggantung tenang di langit. Membentuk suatu gugusan awan yang indah. Yang kurasa pastilah Eun Ri tengah memandanginya, mengagumi gugusannya. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arahnya, membuat suatu goresan di langit hampa yang entah apa. Bergumam perlahan, menyayikan sebuah lagu menyayat hati. Aku mendekatinya perlahan, melangkahkan kaki-kakiku dengan amat hati-hati. Membawakan sesaji yang biasa di santapnya. Berharap kedatanganku tidak menganggu kesibukan dirinya. Entah mengapa aku selalu gugup, takut, ketika tubuh ini ingin sekali mendekati sosoknya. Sosok wanita berambut panjang tak tertata, kantung matanya terlihat begitu jelas, terlihat hitam di wajahnya yang seputih salju, pucat, sepucat gaun tidurnya. Ia, Eun Ri eantah mengapa tiba-tiba ia berhenti bergumam, berhenti menyayikan lagu anehnya. Menoleh ke arahku tajam. Aku hanya terhenyak kaget. Tatapannya, aku begitu merasakannya. Tajam menerkam. Aku meringis melihatnya. Mencoba seakrab mungkin dengannya. Eun Ri masih terdiam, kemudian mengalihkan pandangannya, kembali menatap gugusan awan bergelombang.
“Yesung-ah, aku melihat kelinci di atas sana”
Eun Ri mengarahkan telujuknya ke salah satu gugusan awan itu. Aku tersenyum hampar. Mendekati Eun Ri mencoba melihat gugusan awan itu, meletakkan sesajinya di sampingku, terduduk di sebelahnya, kini mataku mengarah ke gugusan itu.
“Aku sangat menyukainya, Yesung-ah”
Eun Ri, aku melihatnya tersenyum lembut. Adalah suatu keajaiban aku bisa melihat senyumnya. Begitu membuatku nyaman, tenang. Aku menatapnya, tersenyum tulus. Menikmati senyuman Eun Ri. Eun Ri masih memandangi gugusan itu, tidak memperdulikan aku yang masih terbuai akan senyum tulusnya. Eun Ri, dongsaengku, dengan segala penuh keanehannya, yang membunuh appa satu tahun yang lalu, entah mengapa, aku tidak tahu ini benar atau salah, Eun Ri saranghae yeongwonhi!
Eun Ri POV
Aku, Park Eun Ri masa lalu dan masa sekarang, dan aku rasa aku masih normal sama seperti manusia pada umumnya. Tapi entah mengapa orang-orang itu menganggapku aneh, tidak normal, dan gila. Persetan dengan manusia-manusia itu. Aku membencinya. Membenci mereka yang menganggapku aneh atau semacamnya. Bahkan aku bisa saja membunuh mereka jika aku menginginkannya. Menyayat tubuhnya, mengulitinya, atau mungkin memotong seluruh anggota tubuhnya. Namun obat-obatan ini, yang selalu menganjal semua niatku, semua emosiku, semua amarahku. Aku bisa merasa sangat tenang jika aku telah meminumnya. Obat-obatan penenang ini adalah hidupku. Menyelamatkanku dari sisi gelapku yang sungguh aku tidak ingin mengeluarkannya. Sisi gelapku, sungguh aku sangat membencinya.
Aku dilahirkan di dunia ini oleh tuhan. Tidak ada appa dan umma. Tinggal di suatu panti di pedalaman kota Seoul. Untuk
itulah aku sering mengatakan bahwa orang tuaku adalah tuhanku. Mengingat mereka, umma dan appa kandungku yang aku tidak tahu sedikitpun garis wajahnya, membuat emosiku tidak terkontrol. Membuatku mengeluarkan sisi gelapku. Meluapkan amarahku pada seluruhnya yang berada di sekitarku. Tidak, saat itu aku bukanlah aku. Aku tidak ingin mengingatnya. Appa, appa angkatku. Pria ramah yang mengeluarkanku dari panti terkutuk itu. Yah, akulah yang pelakunya. Pelaku yang telah membunuh pria ramah itu. Membunuhnya dengan kedua tanganku. Tidak, itu bukan aku. Melainkan sisi gelapku. Sungguh bukan aku pelakunya. Bukan. Bukan kedua tangan ini yang membunuh pria ramah itu. Pria itu terbunuh karena dia. Bukan aku. Karena kecerobohannya. Bukan aku! Sekali lagi aku tegaskan BUKAN AKU!
Yesung POV [Flashback]
Ku lihat appa tengah bersamanya. Bersama wanita aneh itu yang beliau bawa dari sebuah panti, mengangkat wanita itu menjadi anaknya secara syah. Bercanda berusaha membuatnya mengeluarkan sedikit senyumannya di sebuah taman. Nihil. Park Eun Ri. Kudengar begitulah panggilannya. Wanita itu, tidak, perempuan itu sudah dua bulan lamanya ia tinggal, tak sedikitpun suara yang pernah aku dengar keluar dari mulutnya. Bahkan senyumannya. Aku tidak pernah melihatnya. Dia hanya terdiam, mematung, tek berdaya, lemah. Park Eun Ri, perempuan dengan boneka kelinci kumal miliknya, umma dan appa, entah ada angin apa, mereka begitu menyukai keberadaannya. Merebut posisiku di hati mereka. Park Eun Ri, dongsaeng tiriku, apa yang istimewa darimu? Sehingga kau bisa merebut hati mereka. Umma dan appa kandungku. Park Eun Ri jawablah!
Pukul tiga pagi waktu Seoul, entah mengapa aku tiba-tiba saja terjaga. Sesuatu yang menganjal di hatiku membangunkanku. Park Eun Ri, perempuan itu, aku ingin sekali melihatnya saat ia tertidur. Ku putuskan untuk ke kamarnya, melihat sosoknya pagi buta ini. Ku langkahkan kakiku mendekati kamarnya. Sedikit lagi, yah aku sampai di ambang pintunya. Sekitar beberapa meter lagi. Aku mencuri pandang ke kanan ke kiri, berusaha tetap was-was agar seseorang tidak memperhatikan gerak-gerikku. Aman.
KYAAAAA!!!!
Suara itu, Park Eun Ri kah? Jantungku semakin berdegup kencang tak teratur. Teriakannya itu, aku merasakannya seperti ketakutan atau entah apa. Ku percepat laju kakiku. Semakin dekat jantungku semakin berdegup dengan kencangnya. Di ambang pintu, sedikit terbuka. Ku buka daun pintu itu lebar-lebar. Gelap, tak ada cahaya. Aku tidak bisa
melihat keadaan di dalamnya.
“Eun Ri-ah, apa yang…??”
Sebuah petir menyambar. Memberi keterangan sementara, membuatku dapat melihat keadaan di sekitar kamarnya. Eun Ri, aku melihatnya samar, teringkuk ketakutan di pojok almari, memegangi kelincinya., dan terdapat sosok lagi. Terkapar tak berdaya. Sepertinya sudah tidak bernyawa, aku mendekatinya. Ku lihat sekilas Eun Ri sedikit bergidik. Apa yang sebenarnya terjadi? Ku teliti sosok yang tengah terkapar itu. Sosok yang sangat ku kenali. Ti…Tidak! Appa! Sebuah gunting tertancap kasar di dadanya, tepat sumber kehidupannya.
Eun Ri POV
Aku melihat mereka dari atas sini jelas. Bermesraan di bawah pohon tempat ku bertemu pertama kali dengannya. Hyera, sahabatku. Aku masih bisa menahan emosiku. Menahan kesedihanku agar tidak meledak. Menahan semua kesakitan ini, memendamnya dalam-dalam di dalam hati. Masih berharap dirinya bisa bersamaku di suatu saat. Cho Kyuhyun. Pria itu mencuri seluruh perhatianku. Melihat senyumnya, melihatnya tertawa, Aku damai. Aku tenang. Aku hidup. Aku merasa aku benar-benar menjadi manusia yang benar-benar normal, meski ku tahu aku bukanlah benar-benar manusia normal. Aku lemah, tak bisa mengendalikan emosiku. Selalu bergantung kepada obat-obatan penenang. Malang, aku begitu malang. Cho Kyuhyun, berkat Yesung, oppaku, aku bertemu malaikatku. Jikalau Yesung oppa tak memaksa umma menyekolahkanku di sekolah umum pastilah aku tak bertemu dengannya. Dengan Cho Kyuhyun, siswa kelas 3, pria yang sangat aku sukai. Oppa, pilihlah aku! Jangan dia! Hyera! Kau tak boleh bersamanya,kau hanya milikku! MILIKKU!
Kyuhyun POV
“Oppa, apa tidak apa-apa?” Hyera, yeoja chinguku, yang sudah menjadi yeojaku selama hampir dua tahun penuh, entah apa dia memeasang raut yang tak ku senangi.
“Ah, chagi, kau memasang raut itu lagi. Biar ku tebak, Eun Ri, kah?” sungguh aku membenci jika Hyera memasang raut kusutnya itu, aku lebih senang jika dia tertawa atau mungkin menangis. Ah, tidak, bukan maksudku untuk selalu membuatnya sedih. Hanya saja, semua wanita, menurutku akan terlihat cantik jika mereka menangis.
“Mwo? Kau bisa membaca pikiranku?”
“Ah, ne! tentu saja.” Aku menjitak kepalanya pelan,”Sudahlah tak usah kau pikirkan. Apa menurutmu dia memikirkanmu?”
“…”
“Sudah ku duga, kau tidak bisa menjawab.” Aku tersenyum ramah kepadanya. Hyera, mimik wajahnya membuatku ingin mencubit kedua pipinya.
“Ah, oppa. Aku han…”
CHU~~
Bibirku ku daratkan lembut di bibirnya. Sungguh aku tidak ingin membahas Eun Ri, sahabat anehnya untuk beberapa kalinya. Hyera mengertilah, aku hanya mencintaimu. Bukan Eun Ri.
Eun Ri POV
Aku meremas kertas bukuku keras. Meluapkan seluruh emosiku pada kertas ini. Hatiku remuk, hancur, aku tidak bisa menggambarkan keadaan hatiku kini. Hyera, rasanya ingin sekali aku menghancurkannya. Memusnahkannya dari dunia ini.
Yesung POV
Tidak. Eun Ri tidak boleh mengetahui hal ini, batinku. Tanganku bergetar memegangi sepucuk surat kiriman post hari ini. Keringat dinginku keluar membasahi seluruh tubuhku. Dadaku terasa sesak. Tubuhku membatu. Eun Ri, apa yang akan dia lakukan jika ia mengetahui ini? Eun Ri, andai kau tahu, aku…aku adalah pria yang kau cari. Pria yang menerimamu apa adanya. Yang bisa menenangkan hatimu, emosimu. Eun Ri, bagaimana ini? Apakah aku harus mengatakannya padamu? Perlukah? Eun Ri, aku mohon terimalah aku!
“Yesung-ah?”
Aku tertegun. Keringat dinginku semakin mengucur deras. Suara yang sangat aku kenali. Park Eun Ri. Tidak, apa yang harus aku lakukan?
“Yesung-ah, waeyo?”
Aku membalikan tubuhku. Mencoba tersenyum ramah melihatnya. Ku coba menenagkan hatiku. Kegugupanku sedikit mereda.
“Aniyo! Tidak apa-apa”
Eun Ri tidak tersenyum. Matanya masih terus mengawasiku. Wajahnya datar. Tanpa ekspresi. Tangannya memegangi boneka kelinci lusuh miliknya. Kemudian ia berbalik, memunggungiku, berjalan perlahan.
“Eun Ri-ah!”
Aku memanggilnya. Eun Ri menoleh, merespon panggilanku.
“Waeyo?” wajahnya masih datar tanpa ekspresi.
“Eun Ri, maukah kau…?”
KRINGGG!!!!
Aku semakin gugup. Telefon itu tiba-tiba berdering. Memecahkan pembicaraanku dengannya. Sial, persetan dengan si penelefon itu. Padahal sedikit lagi, aku bisa mengungkapkannya.
“Yeoboseyo!”
Eun Ri mengangkatnya. Kemudian terdiam lemas. Semakin lemas hingga boneka kelincinya terjatuh dari genggamannya. Aku semakin khawatir. Gugup, keringat dinginku kembali mengalir. Siapa si penelefon itu?
BRAAKKKK!!!
Eun Ri menutup gagang telepon itu keras. Meluapkan seluruh emosinya kepada benda itu.
“Berikan surat itu!”
Eun Ri, tidak, atau jangan-jangan, Kyuhyun, dia si pnelefon itu.
“BERIKAN!”
Eun Ri semakin memberontak. Aku terbelalak kaget melihat ekspresinya yang tiba-tiba berubah menjadi merah padam. Aku masih bersikeras memegang surat itu.
“Eun Ri, sepertinya kau harus meminum obatmu lagi” Aku mendekatinya perlahan, merangkulkan tanganku ke
pundaknya. Dengan kasar, Eun Ri membuang tanganku dari pundaknya. Meremas tanganku hingga perih, panas ku rasakan. Menarik tangan ku yang lain kasar, mengambil surat yang kini telah berada di tangannya.
“Eun Ri, aku mohon!” pintaku. Eun Ri masih tertegun dengan surat itu. Surat undangan pesta pertunangan mereka, Kyuhyun-Hyera. Aku melihatnya, melihat Eun Ri. Air matanya keluar deras membasahi wajahnya.
Emosinya mulai meledak. Eun Ri membuang kertas itu kasar, masih dalam keadaannya yang menangis. Ia meronta-ronta. Menjatuhkan, merusak apa-apa yang berada di dekatnya. Sungguh aku kebinggungan menghadapinya. Eun Ri, penyakitnya mulai kambuh. Aku berusaha menenagkannya. Mendekatinya, merangkulnya. Tidak berhasil. Terus kucoba memeluknya. Menahannya yang berteriak meronta-ronta. Mengeluarkan kata-kata yang tak wajar. Aku menahannya, memeluknya dari belakang. Masih meronta-ronta. Sungguh aku tidak bisa menahannya lagi. Dia terlalu kuat, terlalu meledak.
“Eun Ri, tenangkanlah dirimu! Aku bersamamu, Eun Ri. Aku mohon, tenanglah!” Aku masih emanahannya dalam
pelukanku.
“Waaaaaa!! Persetan! Lelaki jahanam! Perempuan murahan! Waaaaa!”
Eun Ri, dia semakin meronta-ronta. Aku tidak bisa menahannya lagi. Pelukanku terlepas. Eun Ri berlari mengambil gunting yang berada tidak jauh di dekatnya. Menusuk-nusukkan gunting itu pada bonekanya kasar. Merobek-robek isinya, mengunting seluruhnya. Mengeluarkan seluruh isi perutnya. Aku berlari ke arahnya. Berusaha lagi menahan emosinya agar tidak semakin menjadi-jadi. Mataku, sungguh tak kuat lagi menahan air mata ini. Aku menangis karenanya.
“Eun Ri, aku mo…”
Sesuatu menghentikanku mengucapkan kata-kata selanjutnya. Menghentikan laju tangisanku. Membuatku terdiam tak dapat bergerak. Sesuatu yang terasa panas dan perih. Begitu perih, sangat perih. Gunting itu, Eun Ri dia menusukkan gunting itu tepat di perutku. Cairan merah kental keluar perlahan dari lubang di perutku. Eun Ri mencabut gunting itu. Terasa semakin perih. Aku terjatuh, terduduk. Masih ada sebagian kekuatanku untuk menahannya. Aku masih bisa memeluk tubuhnya. Membisikkan kata-kata di telinganya yang mungkin bisa menenagkan hatinya. Aku melepaskan pelukanku, Eun Ri terdiam, kemudian aku menatap Eun Ri, matanya mengerikan, merrah penuh air mata. Wajahnya bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya. Kantung matanya begitu terlihat jelas. Wajahnya pucat, layaknya orang yang sudah tak bernyawa. Dia bukan Eun Ri. BUKAN! Eun Ri menatapku tajam, meronta-ronta. Sekali lagi Eun Ri menusukkan guntingnya ke perutku kasar. Kemudian mencabutnya lagi. Menusukkannya lagi dan mencabutnya. Hingga aku terkulai lemas. Eun Ri, inikah dirimu yang kau maksudkan? Aku benar-benar terkulai lemas. Tak ada kekuatan lagi. Aku jatuh. Terbaring lemah di hadapannya. Eun Ri memegang gunting itu, akan mengarahkannya mematikan sumber kehidupanku.
“E…un…Ri……s…arangha…e y…eongwon…hi”
Eun Ri samar-samar aku lihat, dia membelalakan matanya. Menghentikan aksinya untuk menusukkan guntingnya ke arahku lagi yang telah terkapar tak berdaya di depannya. Eun Ri terdiam, tubuhnya melemas. Gunting itupun terjatuh dari tangannya. Aku tersenyum. Eun Ri tersenyum. Emosinya, aku rasa sudah turun. Kemudian aku melihat sosok. Sosok wanita dengan tongkat baseball di belakang Eun Ri. Mengangkat tinggi-tinggi tongkat itu. Umma, apa yang akan dia lakukan?
“Eun Ri…ANIYO!!!”
BRAKKK!!!
Tongkat baseball itu sukses mengenai kepalanya. Kepala Eun Ri. Eun Ri terkapar di atasku. Masih bisa ku lihat, darahnya keluar dari kepalanya deras. Entah mengapa kekuatanku kembali. Aku meletakkan kedua tanganku di punggungnya. Sedikit memaksakan diri untuk melakukannya. Ini begitu sulit. Aku menagis sejadi-jadinya, umma teganya kau melakukan ini pada Eun Ri? Eun Ri aku mohon, bertahanlah. Kemudian matanya menatapku, tersenyum lembut.
“Ye…sung…g…goma…wo”
Tangannya yang penuh darah memeluk wajahku lembut. Mendekatkan wajahnya ke arahku. Semakin dekat hingga beberapa senti lagi bibirku bertemu dengan bibnirnya. Eun Ri, dengan bibirnya yang penuh dengan darah, mencium bibirku lembut. Aku memejamkan mataku menikmatinya. Hingga 10 detik kemudian ia melepaskannya, aku tidak bisa merasakan denyut jantungnya di dadaku. Eun Ri, dia menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukanku. Aku memeluk tubuhnya erat, menagis sejadi-jadinya. Mengabaikan rasa sakit di lubang perutku yang telah di timbulkannya. Eun Ri, tunggu oppa di surga!
One year later…
Yesung POV
Aku menatap nisannya. Air mataku sekali lagi menetes. Park Eun Ri. Nama itu tertulis indah di nisan itu. Ku belai nisan itu perlahan. Kemudian meletakkan boneka kelinci di depan nisannya. Tersenyum melihat nisan itu. Mengusap air mataku lalu pergi meninggalkan nisannya. Aku berjalan menyusuri jalanan indah sore ini. Sengaja tidak ku bawa mobilku untuk menjenguk nisannya. Eun Ri, dia lebih suka aku berjalan dengan kedua kakiku. Aku tersenyum mengingatnya. Aku menoleh ke kanan. Ku lihat di sebuah taman, seorang appa berusaha menghibur anak gadisnya. Berambut panjang berantakan, dengan gaun tidur putihnya, dan sebuah boneka di tangannya. Gadis itu hanya menatap appanya datar. Aku terhenyak melihat sosok gadisnya. Sosok itu, benarkah Park Eun Ri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar