Selasa, 15 Maret 2011

[Story] Gomawo, Aishiteru ^ Part 1

Note :

-terinspirasi dari drama korea Princess Hours and Boys Over Flower, jadi maaf kalo ada yang mirip-mirip.

-untuk bahasa korea ma jepang, bakalan ada artinya di dalam kurung, trus nanti ada /kr/ ma /jp/, yang di kasih /kr/ berarti bahasa Korea, yang /jp/ berarti bahasa Jepang. Meii bikin artinya coz yang baca bukan k-lovers ma j-lovers aja, tapi ada beberapa temen meii yang emang ga suka ma dua itu tapi pengen baca.

Title : <3>

Author : Meii Dorayaki a.k.a nam_cheonsa

-Main Character-

*Hyeorii

Cewek keturunan Indonesia-Korea, dengan nyokap asal Korea and bokap Indonesia. Nyokap kandungnya meninggal waktu ngelahirin Hyeorii. Untuk mengenang almarhum istrinya, maka diberilah nama Hyeorii, sama dengan ibunya yang udah almarhum, terus bokapnya kawin lagi. Hahahaha…

Periang banget (lebih cocok hyperaktif) dengan tinggi Cuma 157an. Meski gak bisa bahasa Korea dengan baik, Hyeorii suka maksa buat ngomong pake bahasa Korea. Ckckck… deket banget sama bokap tirinya. And perlu tau, Hyeorii agak matrealistis, meski begitu dia gak pelit and baik hati. Phobia air dalam gara-gara pernah nyaris mati karena tenggelem, trus phobia ketinggian ma tempat yang gelap.

*Kazuya Ryoheii

Putra keempat Keluarga Kazuya, blasteran juga, blasteran Indo-jepang. Sebenernya riwayat keluarganya ribet banget. Jadi gini, kakeknya itu presdir G.A.G (re: ji-ei-ji) a.k.a Global Asia Group yang berpusat di Jepang. Punya 2 istri, nah istri keduanya itu orang Indonesia. Dari istri keduanya itu punya anak, yaitu bokapnya si Ryoheii ini, yang jadi presdir dari cabang G.A.G di Indonesia. Dia merit ma nyokapnya Ryoheii yang orang Jepang karena dijodoin, punya deh 4 anak, Kazuya Minoru, Kazuya Hiki, Kazuya Ayano, ma Kazuya Ryoheii. Terus, waktu umur Ryoheii 5 tahun, bokap ma nyokapnya cerei. Nyokapnya pindah ke Inggris dengan membawa satu-satunya anak ceweknya, yaitu Ayano. Udah gitu, bokapnya Ryoheii kawin lagi ma janda dari Indonesia yang udah punya satu anak, nama anaknya Danny Atmaja. Begitu…

Ryoheii ini sikapnya dingin banget, jutek malah. Gak pernah senyum kecuali sama 1 orang. Sangat gak suka sama Danny, adek tirinya dan juga nyokap tirinya. Sangat tampan (kalo senyum) dan sangat disayang ma abang-abangnya. Biarpun keliatannya cuek dan tangguh, tapi sebenarnya dia itu rapuh (ce ile).

Oya, saking gak sukanya sama nyokap and adek tirinya, Ryoheii sampe gak mau serumah sama mereka, jadi deh Ryoheii di bikinin rumah sendiri yang gak terlalu jauh dari rumah utama keluarga Kazuya yang terkenal dan terhormat itu.

*Sherril Ayunda

Ryoheii sempat down waktu nyokapnya pergi ninggalin dia gak bilang-bilang, tapi Sherril ini yang berhasil bikin Ryoheii mau mengangkat kepala meski gak bisa membuat Ryoheii membagi senyumnya dengan dunia.

Dan perlu diketahui kalo Sherril ini berusia 3 tahun lebih tua dari Ryoheii atau seumuran dengan Ayano. Juga, dia ini merupakan tunangan dari saudara sepupunya Danny.

*Danny Atmaja

Kalau di keluarga Kazuya, Danny dipanggilnya Sora. Cowok yang awalnya dikagumi Hyeorii. Always tersenyum dan salalu ada di saat Hyeorii membutuhkan. Ji Hoo banget ini mah!

-Other Character-

*Kazuya Minoru, kakak Ryoheii

*Kazuya Hiki, kakak Ryoheii, adik Minoru

*Nadya and Mikha, sahabat Hyeorii

*Rifki, oppanya Hyeorii

*Diamond Gank (Reivan, Andra, Zakia, Amanda)

*Sweety Bee Gank (Angela, Marina, Samantha)

And other chara, banyak pokoknya.

SINOPSIS

GAG (Global Asia Group) merupakan perusahaan terbesar se-Asia yang berpusat di Osaka, Jepang. Dan salah satu cabang perusahaannya terdapat di Indonesia yang dipimpin oleh Kazuya Sando. GAG Indonesia sendiri menempati peringkat ke-7 perusahaan terbesar se-Asia Tenggara dan 25 besar se-Asia. Jelas saja keluarga Kazuya Sando adalah keluarga paling kaya se-Indonesia. *Anggap Bakrie gak ada /plak!*

Lalu, ada sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar, yaitu Light Corporation yang dipimpin oleh Indra Hermawan. Saham Light Corp. anjlok dan diambang kebangkrutan (ato emang udah bangkrut?!). Akhirnya, dengan berat hati Tuan Indra berniat menjual Light Corp. ke GAG Indonesia.

Saat dalam proses negoisasi, Tuan Indra keceplosan curhat tentang keluarganya. Tuan Sando merasa tertarik dengan satu-satunya putri Indra Hermawan. Saat melihat photo putri Tuan Indra, Tuan Sando berniat menjodohkannya dengan salah satu puteranya dengan imbalan akan membantu Light Corp. naik kembali.

Indra kebingungan, akan tetapi dia bilang kalo keputusan itu ada di tanagn putrinya.

Putri Indra Hermawan adalah Hyeorii, gadis berusia 16 tahun dan baru saja naik ke kelas 2 SMA. Jelas lah Hyeorii menolak mentah-mentah. Tapi… ada sesuatu yang akhirnya bikin dia nerima.

*Pasti udah ketebak jalan ceritanya. Yasudah…*



-THIS IS HYEORII-

Hyeorii mematut diri di depan cermin. Gaun putih menjuntai ke lantai yang dikenakannya pas sekali. Meski tubuhnya mungil, dalam balutan gaun putih itu Hyeorii terlihat dewasa. Rambutnya yang panjang sebahunya digelung dengan hiasan emas putih bermotif bunga. Wajahnya yang putih agak pucat dipoles make up yang agak glamour tapi tidak menor.

“Hyeorii-ssi, mari, acara akan segera dimulai.”

Hyeorii menoleh ke belakang, seorang wanita bersetelan serba biru tersenyum padanya. “N-ne? sudah saatnya? Ba… baiklah,” Hyeorii melangkah hati-hati mengikuti wanita itu.

Hyeorii dan wanita tadi sampai di sebuah pintu yang lumayan besar, lalu dibukakan oleh wanita itu. Ketika pintu terbuka, Hyeorii melihat sebuah taman yang indah, dan tepat di hadapannya, terbentang karpet merah menuju altar.

Altar? Ya altar, Hyeorii akan menikah hari ini. Di kiri dan kanan jalan menuju altar, undangan sudah duduk dengan rapi.

“Ayo!”

Hyeorii menoleh ke samping kirinya. “Rifki oppa?!”

Rifki tersenyum. “Ayo, aku yang akan jadi pengiringmu.”

Hyeorii balas tersenyum lalu melangkah menuju altar dengan digandeng oleh oppanya diiringi wedding march yang menggema di seluruh ruangan.

‘Siapa namja (laki-laki /kr/) itu?’ pikir Hyeorii melihat ke arah seorang pria yang memakai setelan serba putih di altar dan berdiri membelakanginya. ‘Dia kah calon suamiku? Barbaliklah hei namja! Aku ingin melihat seperti apa rupamu!’ ujar Hyeorii dalam hatinya.

Saat Hyeorii sudah dekat dengan altar, namja itu berbalik dan tersenyum pada Hyeorii.

Hyeorii balas tersenyum. “Danny…” bisiknya.

Namja itu mengulurkan tangannya dan Hyeorii langsung menyambutnya.

Kini Hyeorii dan Danny, nama namja itu, sudah berdiri bergandengan di altar menghadap pendeta dan siap menjalani upacara pernikahan.

“Baiklah, mempelai pria dipersilahkan mencium mempelai wanita,” ujar pendeta menutup upacara.

Hyeorii memejamkan matanya, kemudian ia merasakan kedua bahunya dipegang Danny. ‘Aneh, mau mencium kenapa memegang bahu?’ batin Hyeorii.

“Hyeorii!” samar-samar Hyeorii mendengar seseorang memanggil namanya.

“Hyeorii!” suaranya terdengar lebih keras, sedang mata Hyeorii masih terpejam. “Hyeorii!”

‘Siapa yang memanggilku? Dan kenapa Danny tidak menciumku juga?’ tanya Hyeorii dalam hati.

“Hyeorii!” kali ini jelas suara siapa itu.

‘Ibu?!’ pikir Hyeorii dengan mata yang masih terpejam.

“HYEORII!!!”

Hyeorii merasa bahunya diguncang-guncang, memaksanya membuka mata perlahan-lahan. “KYAAA~!” pekik Hyeorii histeris saat membuka mata. Bagaimana tidak, mempelai prianya, si tampan Danny, berubah wujud jadi sosok ibu tirinya yang gahar –meski cantik-.

“HYEORII!!! BANGUN!!!”

Hyeorii mengerjapkan matanya beberapa kali. “Ibu…” desahnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

“Kau ini susah sekali bangun! Apa kau tidak akan sekolah?” ibunya menarik selimut yang menggulung tubuh Hyeorii. “Cepat bangun!” lanjutnya sambil berkacak pinggang.

“Neee…” jawab Hyeorii malas, kemudian duduk di sambil memegangi kepalanya. “Ibu, ibu merusak mimpiku…”

“Merusak mimpimu?! Lihat sudah jam berapa ini?! Apa pantas jam segini masih bermimpi?! Benar-benar kau ini! Cepat mandi!” Nyonya Rani pun beranjak meninggalkan putri tirinya.

“Neee…” Hyeorii kembali membanting tubuhnya ke atas kasur, berniat melanjutkan mimpinya yang sempat terpotong. Tapi belum sampai satu menit Hyeorii memejamkan matanya…

“HYEORII!!!”

Hyeorii spontan langsung terbangun dan ngibrit ke kamar mandi, menghindari amukan ibunya yang mampu menyaingi Gozilla.

_*_*_*_

Hyeorii melangkah dengan ceria menuju kelasnya sambil sesekali menyapa atau membalas sapaan beberapa temannya. Hyeorii berhenti saat melewati lapangan basket. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Sesosok namja jangkung berambut spike hitam sedang bermain bersama beberapa temannya. Namja itu mendrible bola, melewati beberapa temannya, mengoper bola, terus maju, kemudian bola kembali ada di tangannya, ia melompat dan hup! Namja itu berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Hyeorii bertepuk tangan tanpa sadar, membuatnya diperhatikan oleh siswa-siswa lain.

Namja keren itu menoleh ke arah Hyeorii dan tersenyum. Wajah Hyeorii memerah dan jantungnya berdebar tidak karuan. Kemudian namja itu melambaikan tangan, ragu-ragu Hyeorii mengangkat tangan dan balas melambaikan tangan.

“Yo! Danny!” tiba-tiba saja seorang namja lain datang dari arah belakang Hyeorii dan mendekat pada si namja keren sambil melambaikan tangan dan tersenyum pada namja keren yang dipanggil Danny.

Seketika Hyeorii merasa wajahnya terbakar dan sudah dipastikan semerah kepiting rebus saat ini karena malu dengan tangan yang masih menggantung di udara sambil memperhatikan kedua namja itu. Hyeorii menelan ludah, ia langsung menarik tangannya dan menundukkan kepalanya cepat-cepat.

“Hyeorii bodoh! Mana mungkin Danny mengenalmu! Bodoh! Di kelas saja kau tidak dianggap! Bodoh sekali kau Hyeorii!” rutuk Hyeorii pada diri sendiri menahan malu.

“Hyeorii!” panggil seseorang.

Hyeorii menoleh. “Nadya!” serunya.

Gadis yang dipanggil Nadya itu menghampiri Hyeorii. “Ayo ke kelas!”

“Tunggu sebentar!” Hyeorii menahan tangan Nadya. “Bel masuk masih 15 menir lagi, kita lihat dulu yang bermain basket, ya?” pintanya.

Nadya melihat ke lapangan basket, seketika seringai serigala menghiasi wajahnya. “Hehehe… karena Danny ya?” godanya.

Hyeorii menundukkan kepala. “A… aniyo… (tidak /kr/)” katanya sambil menggeleng.

Sedikit-sedikit Nadya mengerti dengan apa yang Hyeorii katakan. “Kau tidak bisa berbohong padaku. Lihat, wajahmu merah seperti cerri.”

“Semalam… aku bermimpi menikah dengannya,” ujar Hyeorii malu-malu.

“Benarkah? Ayo cerita! Tapi jangan di sini. Aku tidak terbiasa membicarakan orang yang ada di hadapan kita,” bisik Nadya sambil mengerling pada Danny. “Ayo ke kelas! Aku juga punya berita heboh! Kau pasti tertarik!” Nadya menarik, atau lebih tepatnya menyeret paksa Hyeorii yang masih keukeuh ingin menonton Danny bermain basket.

Tanpa Hyeorii tau, saat Hyeorii di seret Nadya, sepasang mata hitam memperhatikan Hyeorii, hingga bola yang tengah dipegangnya direbut oleh temannya.

“Perhatikan bolanya, Dan!” ujar siperebut bola setengah menyindir.

Danny hanya tersenyum kemudian mengejar temannya. “Awas kau!”

_*_*_*_

“Hahahaha…” tawa Nadya pecah seketika setelah Hyeorii menyelsaikan cerita mengenai mimpinya, membuat beberapa orang yang berada di kelas itu menatap aneh ke arah mereka berdua.

“Aish! Nadya! Kau ini membuatku malu saja! Berhenti tertawa!” hardik Hyeorii.

“Hahaha… maaf, tapi itu lucu sekali… membayangkanmu dengan bibir monyong saat ibumu membangunkanmu… hahaha… Tante Rani pasti berpikiran kau mimpi yang aneh-aneh. Hahaha…” Nadya masih tertawa, tapi dengan volume yang lebih kecil.

“Ahh… sudah! Sudah! Menyesal aku bercerita padamu! Sekarang, apa berita yang kau punya?” selidik Hyeorii.

“Ekhmm…” Nadya sedikit berdehem untuk menghentikan tawanya. “Kau belum tau? Danny akan pindah sekolah,” nada bicaranya berubah serius.

“MWO (apa /kr/)?!” mata Hyeorii membulat tidak percaya.

“Benar, tapi aku juga tidak tau pasti. Aku mendengar gosip ini tadi saat memasuki gerbang sekolah. Kau tau Rina dkk kan? Mereka itu penggosip kelas kakap.”

Hyeorii menarik napas panjang. “Ke mana dia akan pindah?”

“P.I.S” jawab Nadya singkat.

“Sekolah presiden itu maksudmu?”

“Bukan sekolah presiden bodoh, tapi namanya President International School.”

“Ya ya ya… aku tau. Toh artinya sama saja,” Hyeorii mengorbit bola matanya. “Dia akan pindah ke sana? Tapi biayanya mahal sekali. Seharga dengan…” Hyeorii terlihat berpikir sambil berkomat-kamit dan menghitung dengan jarinya.

“Apa kau lupa? Ayah tirinya adalah presiden direktur dari GAG Indonesia. Perusahaan terbesar se-Indonesia.”

“Oh iya…” Hyeorii memasang wajah lesu. “Tentu saja, aku lupa akan hal itu,” Hyeorii menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Uang bukan masalah untuk keluarga mereka. Mungkin ayahku akan berpikir puluhan kali untuk menyekolahkanku di sana. Apa lagi sekarang keluargaku sedang krisis gara-gara saham perusahaan yang anjlok,” Hyeorii menghela napas berat.

“Apa kau berniat sekolah di sana”

“Bicara apa kau ini? Tentu saja tidak.”

“Syukurlah,” Nadya menarik napas lega. “Lagi pula aku tidak yakin kau akan diterima sekolah di sana, mengingat bahasa Inggrismu parah sekali.”

“Huh?! Bicara apa kau Nadya?!” Hyeorii siap mencekik Nadya.

“Itu fakta!” Nadya langsung kabur.

_*_*_*_

“Aku pulang!” seru Hyeorii saat masuk ke rumah sepulang sekolah.

“Selamat datang!” jawab seluruh anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Appa (ayah /kr/)?! Rifki oppa (kakak laki-laki /kr/)?! Kalian sudah pulang?” kening Hyeorii berkerut melihat appanya dan oppanya duduk berendengan di sofa.

“Memangnya kenapa kalau kami pulang cepat?” Rifki bertanya balik.

“Aniyo, hanya saja… tidak biasanya.”

“Kau, kemari! Duduk di samping ibu. Ada yang ingin kami bicarakan,” ibu menggeser duduknya, menyisakan tempat untuk Hyeorii.

Hyeorii memperhatikan wajah-wajah keluarganya. Semua tampak serius. Bahkan si kecil Niko juga. Firasat Hyeorii mengatakan sesuatu yang buruk dan menggemparkan hidupnya telah terjadi. Kemudian ia duduk di samping ibunya, Rifki langsung pindah duduknya ke samping Hyeorii. Jadilah Hyeorii di apit oleh ibu dan kakaknya.

“Oppa ini kenapa?” tanya Hyeorii keheranan.

“Tidak,” jawab semuanya serentak.

Hyeorii makin bingung. ‘Ok, ini mulai mencurigakan.’

“Ekhm… begini Hyeorii…” ayah mulai angkat bicara. “Kau tau kan saham perusahaan kita anjlok?”

Hyeorii menjawab dengan anggukan. Tentu saja ia tau, mobil yang biasa dipakai mengatar-jemputnya di jual sampai ia harus naik bis, uang saku bulanannya dipotong lebih dari 60%, dan ia tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat elektronik secara berlebihan untuk menghemat listrik. Ada lagi hal untuk membuat Hyeorii tau kalau perusahaan mereka sedang bangkrut?

Ayah menarik napas panjang. “Appa berencana menjual sebagian saham kita pada GAG Indonesia. Ayah sudah menemui pimpinannya pagi tadi. Mereka tertarik…” ayah menghela napas panjang. “Mereka menawar dengan harga yang… bisa dibilang tidak terlalu bagus… akan tetapi…” ayah menggantung kata-katanya membuat Hyeorii kebingungan akan maksud dari perkataan ayah yang sebenarnya.

‘Untuk apa appa bercerita tentang perusahaan padaku? Aku kan tidak bisa membantu apa-apa. Pasti ada sesuatu,’ batin Hyeorii.

“Akan tetapi, mereka memberikan satu pilihan… merekan tidak akan membeli saham kita, melainkan memberi bantuan dana untuk menaikkan kembali saham Light Corp. dengan syarat…” ayah memberi isyarat pada Rifki dan ibu.

Tiba-tiba Rifki dan Ibu memegangi Hyeorii dnegan cukup kuat, membuat Hyeorii merasa jika akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Firasatnya jelek sekali. “Ibu! Oppa! Kalian apa-apaan?” Hyeorii memandang ibu dan oppanya bergantian dengan heran.

“Hanya berjaga-jaga,” jawab Rifki.

Hyeorii menautkan alis. ‘Ok, ini sudah kelewatan! Ada apa sebenarnya?!’

“Hyeorii-ya… syaratnya adalah…” ayah kembali menggantung kata-katanya membuat Hyeorii gemas. Ia lalu menghela napas. “Pertunangan,” lanjutnya lemas.

Hyeorii mengernyit. “Lalu? Untuk apa appa bicara seperti ini padaku?!” tanyanya polos.

“Ya, karena kau yang akan bertunangan dengan putra pres…”

“MWO?!” pekik Hyeorii histeris sebelum ayahnya menyelsaikan kalimatnya, Ia sudah akan berdiri tapi ditahan oleh ibu dan kakaknya, pantas saja mereka berdua memegangi Hyeorii.

“Appa!” seru Hyeorii. “Kenapa aku? Kenapa bukan Rifki oppa saja? Dia kan lebih tua dariku,” Hyeorii memasang wajah memelas.

“Apa?! Tidak! Apa kau tuli? Tadi ayah bilang ‘putra’, itu artinya anak presdir GAG itu laki-laki! Dan catat ini! A-KU-NOR-MAL!” sambar Rifki cepat dan dengan penekanan di tiap suku kata kalimat terakhirnya.

Hyeorii mendengus sebal. “Dengar! Aku tidak peduli bagaimanapun caranya perusahaan diselamatkan! Tapi yang jelas aku tidak mau menjadi korban! Aku tidak mau dijual! Aku tidak mau kisah hidupku berakhir menyedihkan seperti di cerita-cerita di mana tokoh utamanya dipaksa menikah hanya untuk materi. Tidak akan pernah terjadi! Titik! Apa lagi aku harus bertunangan dengan anak presdir GAG, aku tidak…” Hyeorii tiba-tiba menghentikan penolakannya yang berapi-api.

‘Tunggu sebentar! GAG?!’ Hyeorii jadi ingat perkataan Nadya tadi pagi, “Apa kau lupa? Ayah tirinya adalah presiden direktur dari GAG Indonesia. Perusahaan terbesar se-Indonesia.” Hyeorii jadi berpikir dua kali untuk menolak.

Keluarga Hyeorii sempat bingung dengan sikap Hyeorii yang histeris, meledak-ledak, dan sekarang tiba-tiba diam. Tapi mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja, mereka langsung mengeluarkan 1000 jurus merayu Hyeorii, mumpung Hyeorii sedang diam.

“Hyeorii-ya, kau tidak akan langsung menikah, hanya bertunangan,” rayu ayah. “Dan kau akan menjadi gadis paling beruntung di Indonesia, tentu saja.”

“Benar, bukankah kau ingin kuliah di Prancis? Mereka pasti akan dengan senang hati menyekolahkanmu ke sana,” sambung ibu.

“Ya, yeodongsaengie (adik perempuan /kr/), kau akan hidup senang, hidup mewah dan mendapat semua yang kau inginkan,” timpal Rifki. ‘Ayo dongsaengku sayang, terimalah. Aku tidak ingin perusahaan yang kelak aku pimpin jatuh ke tangan orang lain,’ batin Rifki.

Semuanya merayu Hyeorii, sedangkan Hyeorii tidak memperdulikannya, ia larut dalam khayalannya sendiri. ‘Putra presdir GAG Indonesia, ya? Pasti Danny. Apakah ini jawaban dari mimpiku semalam? Oh Tuhan… benarkah? Aku tidak sedang bermimpikan? Aku akan bertunangan dengan Danny? Tentu aku mau! Tapi… tidak etis kalau aku bilang aku mau setelah tadi aku menolak mentah-mentah. Aku harus pura-pura jual mahal,’ pikir Hyeorii.

“Jadi bagaimana, sayang?” tanya ibu lembut.

Hyeorii memasang tampang pura-pura berpikir. “Bagaimana, ya?! Kurasa… Tidak!” Hyeorii melipat tangan di dada.

“Ayolah, Hyeorii-ya… nasib 50.000 karyawan Light Corp. ada di tanganmu,” Rifki memasang wajah memelas yang dibuat-buat.

Hyeorii menatap Rifki sebal. ‘Aku tau apa yang ada di pikiranmu, oppa! Kau pasti takut Light Corp. tidak akan jadi milikmu kan?! Dasar kau!’ umpat Hyeorii dalam hati.

“Aku lelah dan lapar. Akan kupikirkan!” Hyeorii berajak menuju kamarnya di lantai dua, keluarganya hanya melongo.

“Ibu, sebaiknya siapkan makanan kesukaannya,” ujar ayah.

“Ya, ya… baiklah,” ibu pun beranjak ke dapur.

Hyeorii tersenyum mendengarnya. Ia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.

“Huuuuwwww!!! YEAH!!! Aha! Aha! Aha! Mimpiku jadi kenyataan! Ayey! Ayey!” Hyeorii melompat-lompat kegirangan di atas kasurnya. “Aye! Aye! Aye! Aha! Aha! Aha! Aye! Aha!” ia juga berjoget-joget gaje seperti orang gila.

Tok! Tok! Tok!

“Hyeorii-ya… Gwaenchanayo (tidak apa-apa /kr/)?”

Hyeorii langsung diam. “Gwaenchana appa (tidak apa-apa ayah), gwaenchana,” jawabnya. ‘Bodoh! Hyeorii bodoh!’ ia lalu memukul-mukul kepalanya sendiri.

“Baiklah kalau begitu, ibu sedang memasak sup jamur. Cepat turun.”

“Ne, appa. Aku akan segera turun.”

Setelah yakin suara derap kaki ayahnya tidak terdengar lagi, Hyeorii langsung jatuh terduduk di atas kasurnya, menarik napas lega. “Phew… untung itu appa. Kalau Rifki Oppa… habislah aku diledeknya,” gumamnya.

Hyeorii baru saja akan mengganti baju, tapi saat dia melihat LG Cokies miliknya yang tergeletak di atas meja, ia tergoda untuk mengabari Nadya. Diraihnya ponsel touchscreen itu dan langsung mencari kontak Nadya.

Terdengar RBT lagu Avril Lavigne – What The Hell, agak lama sampai kahirnya diangkat.

“Yoboseoyo (hallo /kr/) Nadya!” sapa Hyeorii semangat.

“Ya, Hallo. Ada apa?”

“Tentang mimpiku tadi malam, bagaimana menurutmu?”

“Maksudmu?”

“Iya, apa akan menjadi kenyataan menurutmu?”

“Emm… bagaimana, ya? Tapi, biasanya mimpi itu kebalikan dari kenyataan, Hyeorii.”

Senyum Hyeorii memudar. “Apa maksudmu?”

“Iya, mimpi itu kebalikan dari kejadian di dunia nyata. Misalnya kau bermimpi mendapatkan banyak uang, tapi kenyataannya kau malah kemalingan dan kehilangan banyak uang. Seperti itulah. Lagi pula, kau bisa bermimpi menikah dengan Danny karena kau menyukainya, kau selalu memikirkannya, membicarakannya, semuanya tentang Danny, benar kan?” jelas Nadya panjang lebar.

Ucapan Nadya berhasil mengurungkan niat Hyeorii untuk bercerita tentang rencana pertunangan itu.

‘Lebih baik tidak usah kuberi tau, biar jadi kejutan saat ku tunjukkan undangan pertunanganku nanti,’ pikir Hyeorii lalu mengangguk-angguk semangat dengan senyum yang kembali menggembang membayangkan keterkejutan Nadya saat tau ia dan Danny bertunangan.

“Hallo, Hyeorii! Kau masih hidup di sana?!”

“Huh?! Ehh… ne… ne… ya sudah kalau begitu. Dah.”

“Hei! Kau menelponku dan mengganggu waktu makan siangku hanya untuk bertanya hal tidak penting seperti tadi?!”

“Iya, memangnya kenapa?” tanya Hyeorii polos.

“Dasar kau ini! Ya sudah, bye.”

Hyeorii menekan tombol merah ponselnya untuk mengkahiri panggilan, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Matanya menerawang langit-langit kamarnya.

“Apa ini benar, ya? Aku baru 16 tahun, kelas 2 SMA, dan aku bahkan belum pernah pacaran. Tapi aku akan bertunangan, dengan orang yang sudah lama kusukai. Oh astaga… ini serasa mimpi. Jantungku…” Hyeorii meraba dadanya. “Hangat… dan berdebar…”

_*_*_*_

Seperti hari-hari sebelumnya, Hyeorii berangkat ke sekolah dengan ceria. Mata biru aqua marinenya selalu berbinar dan juga bibir tipisnya selalu mengulas senyum tulus.

Hyeorii berhenti di pinggir lapangan basket seperti kemarin. Tapi… ada yang hilang. Namja berambut spike dengan tubuh atletis itu tidak ada di sana.

‘Benarkah Danny pindah?’ hatinya bertanya-tanya, lalu ia menggeleng kuat. ‘Andwae (tidak mungkin/jangan)!!! Danny pasti sudah masuk ke kelas. Ya benar! Tetap berpikiran positif Hyeorii!’ Hyeorii berusaha menyemangati dirinya sendiri kemudian kembali berjalan menuju kelasnya dengan semangat.

‘Ke mana dia? Kenapa tidak sekolah? Benarkah dia pindah?’ pikir Hyeorii sambil menatap tempat duduk kosong selang 2 meja di depannya. Hyeorii menghela napas berat, binar di matanya sedikit meredup. ‘Tenanglah, Hyeorii. Meskipun dia jadi pindah, kau kan akan segera bertunangan dengannya,’ Hyeorii mencoba menghibur dirinya sendiri. ‘Ya, benar! Aku akan segera bertunangan dengannya! Semangat!’ Hyeorii lalu tersenyum sendiri sambil mengangguk-angguk dan mengepalkan kedua tangannya.

“Pagi, Hyeorii!” sapa Nadya kemudian duduk di samping Hyeorii.

“Annyeong (hallo /kr/), Nadya!”

Nadya melihat kursi Danny yang kosong. “Sepertinya dia benar-benar pindah, ya?”

Hyeorii mengangkat bahu, menghela napas dan mengulas senyum tipis.

Nadya menatap prihatin pada Hyeorii. “Jangan sedih. Masih banyak yang lebih tampan dari Danny,” ujarnya dengan niat menghibur sambil menepuk pundak Hyeorii.

Senyum Hyeorii melebar, memamerkan gigi kelincinya dan membuat matanya terpejam membentuk segaris lengkung yang membuatnya terlihat menggemaskan. “Tenang saja, Nadya. Aku baik-baik saja.”

Nadya mengernyit, namun sedetik kemudian ia menarik napas lega, sahabatnya ternyata gadis yang tegar. Selanjutnya Nadya mengeluarkan beberapa buku dan alat tulis. “Kau sudah mengerjakan PR Nihongo (bahasa Jepang) dari Yamada-sensei?”

Hyeorii menepuk jidat. “Astaga! Aku lupa!” kemudian ia cepat-cepat mengeluarkan buku catatannya.

“Ahh… biarpun kau ingat, apa kau akan mengerjakannya?” cibir Nadya.

Hyeorii menyeringai. “Aku keturunan Korea, bukan Jepang, kau ingat?” kilahnya.

Nadya mengorbit bolamatanya. “Lalu?! Itu bukan alasan yang bagus dan dapat diterima. Tidak ada hubungannya antara belajar Bahasa Jepang dengan keturunan Korea, dasar bodoh!”

Hyeorii mengerucutka bibirnya. “Tentu ada!” ujarnya. Hyeorii selalu kesal dengan pelajaran bahasa Jepang dan bahasa asing lainnya. Kenapa orang Indonesia mau repot-repot belajar bahasa Jepang? Apa karena Jepang pernah menjajah Indonesia? Tapi kenapa bahasa Portugis, Spanyol dan Belanda juga tidak dipelajari dan tidak masuk kurikulum sekolahnya? Bukankah mereka menjajah lebih lama dari pada Jepang?!

“Ya! Nadya! Aku tidak bisa membaca ini!” Hyeorii menunjuk sederet huruf hiragana dan huruf kanji di buku tugasnya yang lumayan bisa membuat matanya berkunang-kunang jika terlalu lama melihatnya.

“Kau tidak mencatat terjemahannya minggu kemarin? Dasar bodoh! Sudah kubilang berkali-kali, seharusnya kau rajin mencatat di pelajaran yang sulit kau kuasai!” alih-alih membantu Hyeorii, Nadya malah menceramahi sahabatnya yang satu ini.

“Berhenti menyebutku bodoh! Aku tidak bodoh! Sudah kubilang juga jika ini faktor keturunan, kalau ibuku orang Jepang, aku pasti dengan mudah mengerjakan soal ini!”

“Itu dia! Berpikir bahwa keturunan mempengaruhi pelajaran bahasa merupakan ciri berpikir orang bodoh!” Nadya menyodorkan kamus bahasa Jepangnya. “Cari di situ!”

“Aku tidak bodoh! Tidak! Tidak sebodoh itu!”

Hyeorii dan Nadya terus berdebat tentang bahasa Jepang dan pengaruh keturunan. Hyeorii mengeluarkan teori ngaco tentang DNA dan pengaruh genetika pada kemampuan bahasa seseorang yang membuat Nadya memijit kepalanya. ‘Dasar Hyeorii bodoh!’

_*_*_*_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar